Kanker nasofaring (Karsinoma Nasofaring) dan Ebstein Barr Virus (EBV)

Advertisement
Kanker nasofaring adalah tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring dengan predileksi di fosa Rossenmuller dan atap nasofaring. Karsinoma nasofaring merupakan tumor daerah kepala dan leher yang banyak di temukan di Indonesia.

Karsinoma Nasofaring (KNF) berasal dari sel epitel yang melapisi nasofaring, tidak termasuk tumor kelenjar atau limfoma. Anatomi nasofaring adalah berbentuk kuboid dengan bagian anteriornya dibentuk oleh posterior koana dari nasal kavitas. Atapnya terbentuk dari basisfenoid dan basisoksiput dengan bagian dinding posterior dibentuk oleh cervical I vertebra.

Faktor penyebab terjadinya KNF antara lain: virus, genetik dan faktor lingkungan yang didalamnya termasuk faktor makanan, merokok dan faktor terpajan oleh karena pekerjaan.

Ebstein Barr Virus (EBV) adalah virus Penyebab Kanker Nasofaring
Virus Epstein Barr (EBV) merupakan virus dsDNA yang memiliki capsid ichosahedral termasuk dalam family Herpesviridae, merupakan salah satu penyebab karsinoma nasofaring. Virus Epstein-Barr virus (EBV).yang paling sering dikaitkan dengan perkembangan KNF. EBV merupakan virus utama yang menyebabkan infeksi mononucleosis, dan terutama ditemukan dalam sel tumor nasofaring tapi tidak meliputi seluruh limfositnya. Kehadiran EBV pada KNF dibuktikan dengan adanya serum antibodi terhadap Virus Caspid Antigen (VCA) dan Early Antigen (EA), dimana peningkatan titer antibodi tersebut biasanya hanya terjadi pada KNF dan tidak pada kanker lainnya serta pada individu normal.

Patogenesis Ebstein Barr Virus (EBV)
Virus Ebstein Barr masuk ke dalam tubuh manusia kemudian bereplikasi dalam sel-sel epitel dan menjadi laten dalam limfosit B. Infeksi virus ini terjadi pada dua tempat yaitu sel epitel kelenjar saliva dan sel limfosit. EBV memulai menginfeksi dengan cara berikatan dengan komplemen C3d (CD21 atau CR2). Mekanisme masuknya EBV dan terjanya infeksi kemungkinan dengan cara: 1) melaui hubungan langsung antara sel pada membrane bagian apical yang dengan limfosit yang sudah terifeksi virus, 2) melalui membrane basolateral, yang dimediasi oleh adanya interaksi antara integrin β1 atau α5B1 dengan EBV, 3) melalui penyebaran virus secara langung melalui membrane lateral yang terjadi setelah pertama kali terinfeksi EBV (Tugizov at all cit Hariwiyanto). Infeksi virus pada limfosit B dimungkinkan karena adanya ikatan antara reseptor membrane glikoprotein gp350/220 pada kapsul EBV dengan protein CD21 dipermukaan limfosit B sebagai targetnya. Setelah mengikat reseptor CD21 pada limfisit B, EBV dalam waktu 1-2 jam akan masuk ke sitoplasma sel penjamu kemudian terjadi fusi TR (Terminal Repeat), yang menyebabkan epitop berbentuk sirkuler, partikel-partikel EBV akan terurai dan genom-genom EBV akan masuk ke dalam nucleus, yang merupakan bentuk EBV infeksi laten, yang ditandai dengan proses aktivasi dan proliferasi sel yang disebut sebagai pengabadian EBV pada sel limfosit B. Proses ini melibatkan interaksi beberapa kompleks glikoprotein virus termasuk gH dan gL yang merupakan homolog dari molekul gp42 dengan MHC kelas II pada limfosit B. 

Pada kondisi normal infeksi EBV dapat terkontrol dan masuk ke fase latent, dimana hanya sedikit sel B yang terinfeksi. Fase litik dapat terjadi baik di epitel rongga mulut maupun di sel B yang terletak berdekatan dengan epitel rongga mulut sehingga menyebabkan EBV yang infeksious banyak terdapat di rongga mulut sehingga dapat menular pada orang lain. Pada keganasan yang berhubungan dengan EBV, genom EBV genom EBV muncul pada setiap sel tumor dalam bentuk episom yang latent ( latent episomal) dan genom tersebut akan mengadakan replikasi selama pembelaha sel. Ekspresi DNA pada EBV yang berbentuk latent episomal tersebut dapat dijadikan sebagai dasar dalam mendeteksi funsi virus pada perkembangan KNF.

Langkah awal infeksi litik EBV ditandai dengan aktivitas protein ZEBRA yang disandi oleh gen BZLF1 yang terdapat pada sel epitel dan limfosit B. Beberapa produk yang berbeda-beda dari gen yang mempuyai korelasi dengan tahapan siklus replikasi litik dapat diidentifikasi dan dikategorikan menjadi: Early Membrane Antigen (EMA), Early Intra- Celulair Atigen (EA), Viral capcid Antigen (VCA),Late Membrane Antigen (LMA). Pada infeksi latent terjadi ekspresi dari beberapa protein antara lain: Epstein Barr Nucleus Antigen 2 & 5 (EBNA 2 & 5) yang dapat diteksi 2-5 jam setelah infeksi, Latent Membrane Protein 1 & 2 (LMP 1&2) yang dapat diteksi 5-7 jam setelah infeksi.

Infeksi laten yang bersifat diam dan tidak memproduksi partikel-partikel virus yang baru, dikaitkan salah satunya dengan KNF. Bentuk laten infeksi EBV pada KNF termasuk tipe II dengan karakteristik terekspresinya protein LMP disamping protein EBER dan EBNA1.

Mekanisme pasti bagaimana EBV dapat menginduksi terjadinya kanker masih belum bisa dipastikan. Akan tetapi penelitian selanjutnya tentang ekspresi dari gen Latent Membrane Protein (LMP) menunjukkan bisa mengubah sel epitel nasofaring in vitro, dan diperkirakan bahwa LMP pada sel yang terinfeksi EBV memproteksi sel tersebut dari program kematian sel atau apoptosis. Sedangkan pada penelitian lainnya ditemukan juga gen LMP ini terdapat pada 65% penderita KNF .

KNF dibagi berdasarkan stadium-stadium yang telah ditetapkan oleh The American Joint Commission on Cancer (AJCC). Stadium tersebut nantinya dipakai sebagai diagnostik dan terapi serta prognostik suatu penderita KNF.

Gejala awal KNF tidak khas bahkan lebih banyak mirip dengan gejala rhinitis ataupun sinusitis. Keluhan penderita baru tampak jelas saat tumor sudah membesar dan sudah berada pada stadium lanjut, ini disebabkan sulitnya pemeriksaan nasofaring karena letak anatomisnya yang berada didaerah cekungan yng sulit untuk dijangkau.

Adapun gejala-gejala yang biasa dikeluhkan oleh penderita KNF antara lain adanya benjolan dileher(76%), gangguan di hidung (73%), gangguan telinga (62%), sakit kepala (35%), penglihatan ganda (11%), rasa kebas diwajah (8%), penurunan berat badan (7%) dan trismus (3%). Biasanya tanda klinis yang didapatkan pada penderita KNF saat diagnosa ditegakkan adalah pembesaran kelenjar getah bening leher (75%) dan kelainan saraf cranial (20%). Diagnosa pasti suatu KNF diambil melalui biopsi nasofaring yang didukung oleh visualisasi melalui endoskopi atau pencitraan dengan potongan melintang.

Terapi saat ini terhadap KNF masih berupa radioterapi dan kemoterapi. Sedangkan pembedahan hanya sedikit berperan didalam penatalaksanaan KNF, dimana hanya terbatas pada diseksi leher radikal untuk mengontrol kelenjar yang radioresisten dan metastase leher setelah radioterapi dan pada pasien tertentu pembedahan penyelamatan dilakukan pada kasus rekurensi di nasofaring.


DAFTAR PUSTAKA
Alberts , Johnson, Lewis ,Raff , Roberts , Walter, Molecular Biology of the Cell Fifth Edition, Garland Science, 2008
Hariwiyanto B, Peran protein EBNA1, EBNA2, LMP1 dan LMP2 Virus Ebtein Barr sebagai factor prognosis pada pengobatan Karsinoma Nasofaring, Program Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesahatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, 2009.
Murpy K, Travers P, Walport M, Janeway’s Immunobiology, ED.VII, Garland Science, New York, 2008
Chen X, Liang S, Zheng W, Liao Z, Shang T, Meta-analysis of nasopharyngeal carcinoma microarray data explores mechanism of EBV-regulated neoplastic transformation, BMC Genomics 2008, 9:322
Chen Y, Yao K, Wang B, Qing J,Liu G, Potent Dendritic Cell Vaccine Loaded with Latent Membrane Protein 2A (LMP2A), Cellular & Molecular Immunology, Volume 5 Number 5 October 2008

ARTIKEL YANG BERKAITAN