loading...

Thursday, June 30, 2011

Sejarah Suku Semende / Semendo

Suku semende mungkin bagi masyarakat di wilayah Sumatra Bagian Selatan sudah tidak asing lagi dengan sebutan suku tersebut, namun bagi masyarakat di luar daerah tersebut masih belum tau atau baru kali ini mendengarnya. Berikut saya coba mengepost tentang sejarah  suku semende, yang juga sering disebut suku semendo.

Berdasarkan hasil pelacakan sejarah yang telah dilakukan, maka ada beberapa bukti sejarah yang ditemukan :
1. Pada tahun 1650 masehi atau 1072 hijriyah telah bertemu sekitar 50 ’ulama di Perdipe, Sumatera Selatan.
2. Mereka berasal dari wilayah Rumpun Melayu yang meliputi Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Semenanjung Malaka, Fak-Fak- Papua, Ternate, dan Kepulauan Mindanau.
3. Hasil Mudzakarah ini memunculkan perluasan dakwah Islam yang berakibat terkikisnya faham anismisme dan budaya jahiliyah di masyarakat.
4. Munculnya kader-kader mujahid yang mengadakan perlawan terhadap penjajah Eropa.
5. Terjadinya perluasan wilayah Islam yang ditandai dengan munculnya Kesultanan yang baru yang masing-masing saling bekerjasama secara baik.
A. Siapakah Tokoh Sentral pada Mudzakarah ’Ulama Serumpun Melayu abad 17 M

Berdasarkan arsip kuno berupa kaghas (tulisan dengan huruf ulu diatas kulit kayu) yang ditemukan di Dusun Penghapau, Semende Darat, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan yang diterjemahkan pada tahun 1974 oleh Drs. Muhammad Nur (ahli purbakala Pusat Jakarta), ada beberapa catatan sejarah. Bahwa pada tahun 1072 Hijriyah atau 1650 Masehi telah ada seorang tokoh ’Ulama yang bernama Syech Nurqodim al-Baharudin yang bergelar Puyang Awak yang mendakwahkan Islam di daerah dataran Gunung Dempo Sumatera Selatan.

Menurut buku ”Jagad Basemah Libagh Semende Panjang”, Terbitan Pustaka Dzumirah, Karya TG.KH. Drs. Thoulun Abdurrauf, dinyatakan bahwa pada abad ke 14 – 17 Masehi, kaum Imperialis dan Kapitalis Eropa (Portugis, Inggris, dan Belanda) telah merompak di lautan dan merampok di daratan yang diistilahkan dalam bahasa melayu, yaitu mengayau. Mereka dengan taktik devide et impera berusaha memecah-belah penduduk di Rumpun Melayu yang berpusat di Pulau Jawa dan Semenanjung Malaka. Maka para waliullah di daerah tersebut dengan dipelopori oleh Syech Nurqodim al-Baharudin pada tahun 1650 M / 1072 H menggelar musyawarah yang berpusat di Perdipe (Sekarang masuk wilayah Kota Pagar Alam, Dataran Gunung Dempo, Sumatera Selatan). Tujuan musyawarah ini antara lain guna menyusun kekuatan bagi persiapan perang bulan sabit merah untuk menumpas ekspansi perang salib di Asia Tenggara.

Masih menurut beliau, bahwa kosa kata ”belanda” konon adalah sebutan bahasa melayu untuk orang netherlands. Kata belanda berasal dari dua suku kata ”belah” (memecah) dan ”nde” (keluarga), maknanya ”tukang memecah-belah keluarga”. Berbeda maknanya dengan kata ”semende” dari dua suku kata ”same” (satu) dan ”nde” (keluarga), maka maknanya ”satu keluarga” yaitu persaudaraan mukmin.

B. Siapakah Syech Nurqodim al-Baharudin

Syech Nurqodim al-Baharudin adalah cucu dari Sunan Gunung Jati dari Putri Sulungnya Panembahan Ratu Cirebon yang menikah dengan Ratu Agung Empu Eyang Dade Abang. Syech Nurqodim al-Baharudin kecil, beserta ketiga adiknya dididik dengan aqidah Islam dan akhlaqul karimah oleh orang tuanya di Istana Plang Kedidai yang terletak di tepi Tanjung Lematang.

Sewaktu remaja beliau digembleng oleh para ’ulama dari Aceh Darussalam yang sengaja didatangkan ayahnya. Ketika tiba masanya menikah beliau menyunting gadis dari Ma Siban (Muara Siban), sebuah dusun di kaki Gunung Dempo yang memiliki situs Lempeng Batu berukir Hulu Balang menunggang Kuda dengan membawa bendera Merah Putih (lihat buku ”5000 tahun umur merah putih” karya Mister Muhammad Yamin). Setelah bermufakat, beliau sekeluarga beserta adik-adiknya, keluarga dan sahabatnya membuka tanah di Talang Tumutan Tujuh, sebagai wilayah yang direncanakan beliau untuk menjadi Pusat Daerah Semende.

Menurut salah seorang keturunan beliau yang masih ada sekarang-TSH Kornawi Yacob Oemar-, dalam sebuah makalahnya dinyatakan bahwa, Syech Baharudin adalah pencipta adat Semende. Sebuah adat yang mentransformasi perilaku rumahtangga Nabi Muhammad SAW. Beliau juga pencetus falsafah ”jagad besemah libagh semende panjang”, yaitu ”Negara Demokrasi” pertama di Nusantara (1479-1850). Akan tetapi ”negara” itu runtuh akibat peperangan selama 17 tahun (1883-1850) malawan kolonial Belanda.

Sebelum ke Tanah Besemah, Syech Baharudin bermukim di Pulau Jawa dan hidup satu zaman dengan Wali Songo. Beliau sangat berpengaruh di di bahagian tengah dan selatan Pulau Jawa. Sedangkan Wali Songo pada masa sebelum berdirinya Kerajaan Bintoro Demak memiliki pengaruh di Pantai Utara Pulau Jawa. Tertulis dalam Kitab Tarikhul Auliya, bahwa untuk mendirikan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa-yaitu Demak, maka ada 16 orang wali bermusyawarah di Masjid Demak termasuk pula Syech Baharudin dan beberapa wali dari Pulau Madura.

Dalam musyawarah itu Sunan Giri menginginkan agar dibentuk suatu negara Kerajaan dengan mengangkat Raden Fatah sebagai raja /sulthan dengan alasan negara baru tersebut tidak akan diserbu balatentara Majapahit, mengingat Raden Fatah adalah anak dari raja Majapahit. Konon dari 16 wali tersebut, 9 orang yang mendukung pendapat ini dan tujuh orang yang berbeda pemahaman dalam strategi dakwahnya termasuk Syech Baharudin.

Syech Baharudin (Puyang Awak) menginginkan suatu daulah seperti Madinah al Munawarah pada masa Rosulullah SAW. Namun demi menjaga persatuan ummat Islam yang kala itu jumlah belum banyak, beliau memutuskan untuk hijrah (melayur) ke Pulau Sumatera. Dari tanah Banten beliau menyeberang ke Tanjung Tua-ujung paling selatan Pulau Sumatera-. Kemudian menyusuri pesisir timur, yaitu daerah Ketapang-Menggala-Komering-Palembang-Enim dan Tiba di Tanah Pasemah lalu menetap disana tepatnya di Perdipe.

Disepanjang perjalanan, sebagai seorang mubaligh beliau selalu mendatangi tempat-tempat dimana masyarakat masih belum mengenal agamaTauhid dan akhlaqul qarimah, untuk mengajarkan nilai-nilai ajaran Islam dengan metode yang sangat sederhana yaitu memepergunakan kultur budaya masyarakat setempat sehingga dapat dimengerti dengan mudah oleh seluruh lapisan masyarakat.

Dalam kehidupan bermasyarakat beberapa suku di perdalaman Sumatera Bagian Selatan, Puyang Awak adalah penyebar agama Islam yang sangat kharismatik. Nama beliau menjadi legenda dari generasi ke generasi terutama sikap beliau yang menunjukkan rasa peduli dan kasih sayang yang sangat tinggi terhadap semua makhluk ciptaan Allah.

Di tanah Pasemah pada waktu itu, Puyang Awak melihat pola hidup masyarakat sangat jauh dari kehidupan yang islami.Adanya praktek-praktek perbudakan dikalangan masyarakat.Perampokan dan penjarahan bagkan penculikan terhadap wanita dan anak-anak dari suku-suku lain disekitar Basemah [dalam bahasa basemah disebut ’nampu’] untuk dijadikan budak [dalam bahasa pasemah disebut ’pacal’], dianggap suatu kebanggaan. Bahkan ada satu keluarga besar yang memiliki ratusan ekor kerbau dan sapi serta puluhan orang pical, pada waktu ia mengadakan suatu pesta pernikahan anaknya, dengan pesta besar-besaran dengan menyembelih puluhan ekor sapi dan kerbau. Untuk menambah ’kebanggaan’ dari keluarga tersebut, maka diumumkan bahwa yang punya hajatan juga akan ’menyembelih seorang pacal’. Suatu bentuk kedzaliman yang melebihi perbuatan kaum jahiliyah Suku Quraisy di Kota Mekkah pada zaman nabi Muhammad SAW.

Pola hidup masyarakat Basemah yang liar, zalim, dan biadab seperti itu, bukan hanya diceritakan kembali secara turun-tumurun dari generasi ke generasi, melainkan tercatat pula pada tulisan-tulisan kuno aksara ka-ga-nga yang dijadikan benda-benda pusaka oleh tua-tua adat dari suku-suku sekitar Basemah, antara lain di daerah Enim. Intinya memperingatkan warga agar berhati-hati dan selalu waspada terhadap kedatangan para perampok dari Basemah yang sering menjarah harta benda serta menculik wanita dan anak-anak mereka. Bahkan selain itu Marco Polo [abad12], membuat catatan khusus tentang Basemah yang berbunyi..’Basma, where the people’s like a beast withuot law or religion....’ [basemah, penduduknya bagaikan binatang buas, tanpa aturan atau agama ]

Puyang Awak yang memperhatikan kehidupan suku Basemah yang liar, zalim tanpa hukum dan agama tersebut, justru berpendapat bahwa di tanah basemah inilah tempat yang tepat untuk menyebarkan ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari Kitab Suci Al-Qur’an yang diturunkan ALLAH SWT kepada nabi Muhammad SAW, untuk meng-agama-kan masyarakat yang belum beragama.

Akan tetapi perlu kita fahami bahwa metode yang dipergunakan oleh Puyang Awak dalam menyebarkan ajaran Islam yang mendasar tersebut, tidak mempergunakan bahasa Arab, melainkan beliau rumuskan kedalam bahasa Pasemah yang cukup dikenal sampai saat ini yaitu ’falsafah GANTI nga TUNGGUAN [Akhlakul Karimah].


C. Hubungan Darah Syaikh Baharudin dengan Sunan Gunung Jati

Mengutip dari buku ”Kisah Walisongo”, Karya Baidhowi Syamsuri, terbitan Apollo Surabaya didapatkan data sebagai berikut.

Adalah dua orang putra Prabu Siliwangi bernama Pangeran Walang Sungsang dan Putri Rara Santang belajar Dinul Islam kepada Syaikh Idlofo Mahdi atau Syaikh Dzathul Kahfi-seorang Ulama dari Baghdad yang menetap di Cirebon dan mendirikan Perguruan Islam. Karena kedua anak Raja Siliwangi tersebut tidak mendapat izin dari sang ayah, maka mereka melarikan diri ke Gunung Jati untuk belajar tentang Islam. Setelah cukup lama menuntut ilmu, keduanya diperintahkan sang syaikh untuk membuka hutan di selatan Gunung Jati yang kemudian dijadikan pedukuhan yang akhirnya menjadi ramai. Tempat ini kemudian dinamakan ”Tegal Alang-Alang” dan Pangeran Walang Sungsang diberi gelar ”Pangeran Cakra Buana” serta diangkat sebagai pimpinannya.

Syaikh Kahfi atau Datuk Kahfi memerintahkan kepada kedua muridnya tersebut untuk menunaikan haji ke Mekkah dilanjutkan dengan belajar Islam kepada Syaikh Bayanillah. Akhirnya Rara Santang menikah dengan seorang penguasa Mesir keturunan Bani Hasyim yang bernama Sultan Syarif Abdullah-dikenal juga dengan Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda. Rara Santang namanya diganti dengan Syarifah Mudaim. Dari pernikahan ini lahirlah dua orang putra, Syarif Hidayatullah dan adiknya Syarif Nurullah.

Setelah Sultan Syarif Abdullah wafat, kedudukannya digantikan oleh putra keduanya Syarif Nurullah, karena putra pertamanya Syarif Hidayatullah tidak suka naik takhta dan lebih memilih pulang ke tanah Jawa beserta ibunya untuk mendakwahkan Islam. Syarif Hidayatullah inilah yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati yang bersama-sama Senopati Demak Bintoro, yaitu Fatahillah yang melakukan penyerangan dan pengusiran Bangsa Portugis dari Sunda Kelapa.

Sedangkan Pangeran Cakra Buana setelah tinggal tiga tahun di Mesir kembali ke Jawa dan mendirikan negeri baru yaitu Caruban Larang. Prabu Siliwangi sebagai penguasa Jawa Barat telah merestui tampuk pemerintahan putranya ini dan memerinya gelar ”Sri Manggana”.

Dalam perjalanan dakwahnya, Sunan Gunung Jati telah sampai ke negeri Cina, dimana terdapat undang-undang yang melarang rakyatnya memeluk Islam. Disana beliau membuka praktek sistem pengobatan. Setiap yang datang berobat diajarinya berwudhu dan sholat. Orang cina kemudian mengenalnya sebagai sinshe dari jawa yang sakti dan berilmu tinggi. Akhirnya banyak diantara penduduknya memeluk Islam, termasuk seorang menteri Cina bernama Pai Lian Bang. Bahkan Kaisar Cina meminta Sunan Gunung Jati untuk menikahi putrinya yang bernama Ong Tien. Sunan Gunung Jati tidak mau mengecewakan sang kaisar, maka pernikahan tersebut dilangsungkan, kemudian ia pulang ke Jawa beserta Ong Tien.

Keberangkatannya ke Jawa dikawal dua Kapal Kerajaan yang dikepalai murid Sunan Gunung Jati, Pai Lian Bang. Kapal yang ditumpangi oleh Sunan Gung Jati berangat lebih dahulu dan singgah di Sriwijaya karena tersiar kabar bahwa adipati Sriwijaya yang berasal dari Majapahit bernama Ario Damar atau Ario Abdillah (nama Islamnya) telah meninggal dunia. Makam beliau dapat kita lihat sampai sekarang di Jalan Ariodillah Palembang. Sedangkan Ario Abdillah ini adalah anak tiri dari Fatahillah.

Karena kedua putra dari Ario Abdillah telah menetap di Jawa, maka Sunan Gunung Jati mengharapkan agar rakyat Sriwijaya berkenan mengangkat Pai Lian Bang sebagai adipati supaya tidak ada kekosongan kepemimpinan. Pai Lian Bang tidak menolak atas pengangkatannya, ia berkata : ”...seandainya bukan Sunan Gunung Jati sebagai guruku yang menyuruhku, maka aku tidak akan mau diangkat menjadi adipati...”.

Dengan bekal ilmu selama menjadi menteri di Cina, Pai Lian Bang berhasil membangun Sriwijaya. Pesantren dan madrasah benar-benar dikembangkannya dan beliau menjadi Guru Besar dlam Ilmu Ketatanegaraan. Murid-muridnya cukup banyak yang datang dari Pulau Jawa dan Sumatera termasuklah seorang cucu Sunan Gunung Jati dari Putrinya Panembahan Ratu yang dinikahi oleh Danuresia (Empu Eyang Dade Abang) yang bernama Syaikh Nurqodim al Baharudin (di sumsel dikenal dengan Puyang Awak). Pada akhirnya setelah Pai Lian Bang wafat, Sriwijaya diganti nama menjadi PALEMBANG yang diambil dari nama PAI LIAN BANG.


D. Latar Belakang Mudzakarah ’Ulama Serumpun Melayu Tempo Dulu

Setiap ulama yang shohih dapat dikenali langkah-langkahnya yang senatiasa menyusuaikan dengan panduan Alqur-an dan sunnah Rosul. Demikian pula analisis kami terhadap gerakan yang dibangun Syaikh Nurqodim al-Baharudin. Dengan segala keterbatasannya selaku manusia biasa dan dengan kesemangatannya selaku hamba Allah yang diberi amanah ke’ulamaan beliau telah berupaya membangun tata kehidupan masyarakat madani yang di contohkan Rosulullah Muhammad SAW. Inilah latar belakang pokok mudzakarah tersebut yaitu ingin mewujudkan tata kehidupan masyarakat yang diatur dengan Syariat Dinullah dengan panduan dari Rosulnya. Beliau tidak bermaksud membangun kekuasan dengan sistem kerajaan. Namun masyarakat madani yang tunduk pada kepemimpinan Allah dan Rosul dengan ’Ulama sebagai Ulil Amrinya.

Kemudian dengan melihat situasi dan kondisi perkembangan Islam di Eropa, Afrika, Asia, hingga wilayah Nusantara memberikan peluang yang besar kepada para ’ulama untuk menyebarkan ajaran Islam ke seluruh dunia, sehingga memberi corak tersendiri dalam kehidupan bermasyarakat. Terciptanya kestabilitasan dan perbaikan sistem kehidupan yang meliputi aspek sosial, budaya, ekonomi, pemerintahan dan keamanan, militer dan ilmu pengetahuan merupakan salah satu effect positif penyebaran melalui Dakwah dan Jihad.

Di rumpun melayu, khususnya setelah terjadi kekosongan kekuasaan di wilayah Sumatera Selatan akibat runtuhnya kekuasaan Sriwijaya dan Majapahit, dan terjadinya peralihan kekuasaan dari kerajaan Demak ke Pajang dan Mataram, sementara di wilayah Besemah (Pagaralam) masyarakat mengalami disintegrasi nilai-nilai kebudayaan yang mengakibatkan terciptanya kekacauan dalam sistem kehidupan sosial kemasyarakatan sehingga mereka kehilangan norma dan aturan yang mengatur tatanan kehidupan sosial. Hal ini yang menjadi faktor kedua dan mengilhami proses penyebaran Islam di wilayah Besemah dan Semendo oleh para ’ulama melalui proses mudzakarah.

Demikianlah dua latar pokok munculnya pertemuan ulama pada masa itu, yaitu ittiba kepada panduan Allah dan Rosul dengan gambaran dalilnya antara lain Surah al Anfal ayat 72, mengenai perintah iman, hijrah dan jihad. Selanjutnya kedua, yaitu kondisi dunia dan ummat yang menghendaki para ’ulama agar bersepakat mengangkat Islam.

E. Lokasi dan Hasil Keputusan Mudzakarah Ulama Tempo Dulu

Keberadaan dan kegiatan dakwah yang dilakukan beliau lama-kelamaan mulai tersebar. Bahwa di daerah Batang Hari Sembilan telah ada seorang aulia yang bernama Syaikh Nur Qodim Al Baharudin. Banyaklah penghulu agama / pemuka agama dari berbagai daerah berdatangan memenuhi ajakan Puyang Nur Qodim untuk bermukim di Talang Tumutan Tujuh akhirnya diresmikanlah oleh Puyang Ratu Agung Empuh Eyang Dade Abang menjadi ”dusun Paradipe” (para penghulu agama) tahun1650 M / 1072 H sekarang dinamakan dusun Tue. Dari perluasan daerah inilah disebut wilayah jagad Semende Panjang Basemah Libagh.

Kegiatan pembukaan wilayah oleh Syaikh al Baharudin antara lain :

1. Pembukaan dusun dan Wilayah Pertanian Pagaruyung yang dipimpin oleh Puyang Ahmad Pendekar Raje Adat Pagaruyung dari Tanah Minang Kabau.

2. Pembaharuan dusun serta pemekaran Wilayah Peghapau yang dipimpin oleh Puyang Prikse Alam, dan Puyang Agung Nyawa beserta Puyang Tuan Kuase Raje Ulieh dari negeri Cina yang nama aslinya Ong Gun Tie

3. Pembukaan Dusun dengan pemukiman di dusun Muara Tenang oleh Putra Sunan Bonang dari Jawa. Di Tanjung Iman oleh Puyang Same Wali, di Padang Ratu oleh Puyang Nakanadin, di Tanjung Raye oleh Puyang Regan Bumi dan Tuan Guru Sakti Gumai serta di Tanjung Laut oleh Puyang Tuan Kacik berpusat di Pardipe

4. Pemekaran pembukaan wilayah Marga Semende, Muare Saung dan Marga Pulau Beringin (OKU).

5. Pembukaan wilaya Marga Semende Ulu Nasal dan Marga Semende Pajar Bulan Segirin Bengkulu

6. Pembukaan dusun dan wilayah pertanian di Lampung yakni Marga Semende Waitenang, Marga Semende Wai Seputih, Marga Semende Kasui, Marga Semende Peghung dan Marga Semende Ulak Rengas (Raje Mang Kute) Muchtar Alam..



Pendiri Adat Semende
a. Ratu Agung Umpu Eyang Dade Abang (Bapak Nur Qodim – Puyang Awak).
1. Puyang Awak Syaikh Nurqodim Al Baharudin, bertempat tinggal di Perapau dan Muara Danau.
2. Puyang Mas Penghulu Ulama Panglima Perang dari Gheci Mataram Jawa.
3. Ahmad Pendekar Raje Adat Pagaruyung dari Minang Kabau (Sumbar).
4. Puyang Sang Ngerti Penghulu Agama dari Tebing Rindu Ati Bangkahulu (Bengkulu).
5. Puyang Perikse Alam dari Lubuk Dendan Mulak Basemah.
6. Puyang Agung Nyawe.
7. Puyang Lurus Sambung Ati dari gunung Puyung Banten Selatan Jabar.
8. Tuan Kuase Raje Ulie Depati Penanggungan.
9. Puyang Lebi Abdul Kahar dari Pulau Panggung.
10. Tuan Mas Pangeran Bonang Muara Tenang.
11. Regan Bumi Nakanadin samewali Tanjung Raya.
12. Tuan Kecil dari Tanjung Laut.
Mengenai hasil keputusan yang di dapat, antara lain adalah munculnya rumusan kesepakatan ulama mengenai tahapan waktu kaderisasi ummat dan masa tegaknya daulah Islam di Rumpun Melayu. Rumusan ini menggunakan bahasa melayu setempat yang tercatat sampai saat ini dan mengandung pesan yang amat kuat, yaitu ”Tujuh Ganti Sembilan Gilir”. Terjemahnya adalah tujuh generasi dan sembilan masa pergiliran Kesultanan”. Satu generasi adalah sekitar 40 tahun sehingga makna tujuh ganti adalah 280 tahun masa pengkaderan atau persiapan ummat ummat Islam untuk bangkit dan mengusir penjajah dari Eropa. Terbukti sekitar 300 tahun kemudian dari tahun 1650 penjajah belanda angkat kaki dari negeri ini. Kemudian Kesultanan Mataram sebagai pusat komunikasi dari kesultanan lain di rumpun melayu diberi batas amanah sampai ke 9 kepemimpinan untuk selanjutnya menegakkan Syariat Islam secara total.

Data mengenai ulama yang hadir antara lain 40 ulama Malaka yang berangkat dari Johor, utusan Mataram Raden Seto dan Raden Khatib dan beberapa utusan lain dari Pagaruyung dan beberapa dari wilayah Rumou Melayu lainnya. Lokasi Mudzakarah Ulama ini adalah di Dusun Perdipe (Para Dipo; para penghulu agama).

Demikianlah sekelumit data yang diperoleh, setelah dilakukan eksplorasi data literatur dan lapangan. Namun demikian segala sumber keterangan apabila bukan bersumber selain Al-Qur'an akan ditemukan ikhtilaf (perbedaan) seperti yang dijelaskanNYa dalam Surah Annisa 82. Maka kami pun membuka segala kesempatan untuk melengkapi, mengkoreksi dan meluruskan data sejarah indonesia
Sumber : http://imrodili.blogspot.com/2010/08/sejarah-suku-semende-dalam-penellitian.html
thumbnail
Judul: Sejarah Suku Semende / Semendo
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh

Artikel Terkait Sejarah Budaya :

48 komentar:

  1. ass. saya mu bertanya apa sebenarnya kaitannya suku semende dengan puyang pahit lidah> trimakasih wr.wb

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima aksih atas pertanyaannya. saya kurang tahu tentang sejarah puyang pahit lidah. setahu saya cerita pahit lidah itu merupakan cerita rakyak sumbagsel, tepat didaerah mana saya tidak tahu. kita sama-sama mencari ya.

      Delete
    2. Ndoook ay sejarah di pucuk itu lahire diera penjajahan eropa, Sementare sejarah semende jauh sebelum itu , dan menurut aku kurang lengkap sekelumit cerite di berite tuh, perlu di catat asal usul suku semende dari pagar alam, ade 5 kakang beradik, dari lime ndek ye bungsu betine ngerantau ke daerah semende atau pulau panggung muara enim , sandi pagar alam, jd itu salah sejarahe,

      Delete
  2. Asslmlaikum...aku keturunan jeme semende pulau panggung,...tapi masalah adatnye aku dikde begitu paham mendetail..tapi secare garis besarnye aku keruan,, salah satunye "tunggu tubang".... bapak kami bukan jeme semende (baca ; suku lain)...tetapi beliau mengerti betul tentang adat suku semende, dan anak ye tue (kelawaiku)dengan sendirinya akan menjadi tunggu tubang dengan segala "atribut" ketunggutubangannye...termasuk hak rumah yang dimiliki oleh orang tua kami merupakan hak tunggu tubang...singkat cerite tunggu tubang(kelawai tertue) telah hidup mapan dan telah mempunyai segala kebutuhan yang memang seharusnye dimiliki, pangan, papan, pakaian dan kendaraan yang di perolehnye sendiri. Nah status rumah tunggu tubang tersebut tidak terurus. akhirnye bapangku tadi menjualkah rumah ye statusnye rumah tunggu tubang...menurut pendapat admin lukmane?

    ReplyDelete
  3. @andreas tan : terima kasih atas komentarnya dan soal ghumah tunggu tubang,--> aq dide terlalu ahli dalam hukum adat, karene inilah kedala, ketakutan akan lengitnye hukum adat (karene dide tetulis) dan tantangan ndik jeme-jeme mude agar dapat menyingkapi sgale permasalahan ini. soal ghuma tunggu tubang dijual itu kembali ke melihat tujuan ghuma tunggu tubang tersebut. dalam mengambil keputusan dijual atau dide ade musyawarah (minta kate) dengan sanak keluarge besak, ade namenye meraje (paman), pangcik, pangtue, endukcik, dll. kalau sudah sepakat keputusan di tangan tunggu tubang. oke bro mungkin sedikti itu yang bisa saya bantu.. semangat..

    ReplyDelete
  4. ass,,, ade sejarah puyang tuan kecik.

    ReplyDelete
  5. Bapang ku Jeme Semende Lembak Ulu Danau OKUS, umak ku Jeme asli Ogan Ilir, tapi kami gegalenye kelahiran Lampung, Base Semende kami pakai mengacu huruf/aksara gh = ghin dlm Base Arab, ku nak nanye tupae bedanye Semende darat dan Semende Lembak tu, ape bebeda ucapan aksara/hurufnye saje, misal Semende Darat : ghumah, Semende Lembak : huma, utk sebutan Rumah dlm Base Indonesia.

    ReplyDelete
  6. @langit biru : aq kurang pacak tentang sejarah tuan kecik? itu sejarah di daerah mane??

    @oganulu : menurutku bahase jeme semende lembak dan semende darat dide bebedah, yang membeda kah itu adalah asal dulunye, di daerah semende di kabupaten muara enim, ade daerah semende darat dan ade daerah semende lembak (itu sebutan saje).jadi asal nining, puyang atau garis keturunan berasal dari daerah itu. asak bahasenye semegi saje, aq pule lah lahir dan besak di lampung, aq perna ke semende anye waktu masih balita. jadi aq dide kenal daerah semende, jeme tueku pule lah lahir dan besak di lampung. jadi semende hanye suku saje asak domisili di lampung. cerite-cerite semende pacak dari nining dan puyangan saje.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ame nak nanye sejarah nenek kecik, masih lah ade nenek ku masih hidup keturunan nye

      Delete
  7. Ame aku jeme kisam nga semende.

    ReplyDelete
  8. UI AKU SALUTLA GA JEME YE NULIS SEJARAH SUKU SEMENDE DI MANE HULIH REFERANSI BUKU NYE MINTA JUDUL BUKU BUKUNYE TKS

    ReplyDelete
  9. Busrani Bin Haji DaudMay 23, 2014 at 2:52 PM

    Aku juge jeme semende kalu bapangku njak di Martenang dan ndungku njak di Tanjung Raye, anye saje pas ku bace asal-usul puyang ngape puyang njak di Matenang bebedah nggah puyang jeme Tanjung Raye, karene aku pernah diceritekah li Bapang Kecikan ku Bahwe Urut-urutan puyang tersebut yang paling tue adalah Puyang Awak, Tuan Mas Pangeran Bonang mpai Puyang Regan Bumi sebenarnye mak mane ini mohon klarifikasi pada yang lebih mengerti, trimaksih informasinye.

    ReplyDelete
  10. Jeme Semende banyak di perantauan ... tetapi gen itu tidakkan pernah hilang seperti Aral Melayu, bhs-nya, selera makannya, perangainya dan sebagainya ... sekali pun sudah diragukan keaslianna karena ditarik dari garis keturunan Bapang ...
    Demikian sekedar komentar singkat.
    Wassalam dari titisan ke-5 (Pangeran Chili atau Ma'rifat Chili dan Ulak Semidang dari sumber awal Padang Guci Bengkulu Selatan)

    ReplyDelete
  11. Terutus catatan sebagian puyang semende ade nggak rahmat diwaytenong piut cicit dari pangeran cili keturunan raje marge semende waytenong.

    ReplyDelete
  12. Terutus catatan sebagian puyang semende ade nggak rahmat diwaytenong piut cicit dari pangeran cili keturunan raje marge semende waytenong.

    ReplyDelete
  13. tolong komentarnye bapak ibuk ade dikde kesenian khas semende yg pacak diteliti dan diamati selain tradisi tunggu tubang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Opta septiana
      Ame kesenian tu sebenarnye banyak.. anye generasi mude jarang ye galak melajae i nye.. akhirnye kebile di tanye dik pacak jwbnye..
      1. Pencak silat jeme semende namenye KUNTAU
      2. Tarian jeme semnde ade TARI PIRING
      3. Ade kandik ngantat manten namenye RUDAT
      Dll...

      Delete
    2. Ade dikde referensi mengenai kesenian jeme semende ni ?

      Delete
    3. Terimekasih.. anye ade dikde referensinye ?

      Delete
  14. Aku tau pepatah jeme semende amun begurau : jeme kite dide katik mati sakit , mati bebunuhan gale # ini humor jeme semende

    ReplyDelete
  15. Aku jeme Semende Marga Mekakau ilir(Kecamatan Mekakau Ilir) OKU Selatan, Waktu Sarjana Muda sedikit meneliti tentang semende, aku meneliti Tsis2 Belande ttg semende dan Peninggalan2 semende di Daerah kami (Tulisan di Kulit Kayu)base Uluan.Aku tamat SD lah merantau ke Jakarta, Alhamdulillah sampai embak-ini dikhumah masih base Semende. Padahal Bini jeme Cine, sampai Bini Pacak base semende,,,ha,,ha,,Kite bersyukur lah banyak tulisan tentang semende dan sejarah puyang2,,Wassalam

    ReplyDelete
  16. @hapid mustai
    kuntau kalu ye kabah maksut tari pisau due yu...
    hahah

    ReplyDelete
  17. Nah.....empai pacak pule aku sejarah kite jeme semende....trims admin izin save and share au....☺

    ReplyDelete
  18. Saya keturunan semende dusun nining saye di muara sindang saya mau tanya klo muara sindang itu masuk didaerah mana ya? Dan siapa puyang asal usulnya? Terimakasih

    ReplyDelete
  19. Saya keturunan semende dusun nining saye di muara sindang saya mau tanya klo muara sindang itu masuk didaerah mana ya? Dan siapa puyang asal usulnya? Terimakasih

    ReplyDelete
  20. trimekasih. mohon disertakan referensi nye amu ade. website atau buku2 ye pacak dibace agi. aku jeme semende jeme kec pulau beringin.. salam kenal.

    ReplyDelete
  21. ternyate inilah cerite ye ade dasarnye tentang semende. aku lahir dilampung bapang tanjung iman endung tj. raye...
    dari dulu kami cakae referensi tentang jagat semende cuma aku telat mbace ye ini. cuman untuk tambahan coba diteliti tentang puyang ATUNG BUNGSU di gumay ulu Lahat, mungkin pacak jadi tambahan kalu kami ilmunye lum sampai
    hee e. e e

    ReplyDelete
  22. ternyate inilah cerite ye ade dasarnye tentang semende. aku lahir dilampung bapang tanjung iman endung tj. raye...
    dari dulu kami cakae referensi tentang jagat semende cuma aku telat mbace ye ini. cuman untuk tambahan coba diteliti tentang puyang ATUNG BUNGSU di gumay ulu Lahat, mungkin pacak jadi tambahan kalu kami ilmunye lum sampai
    hee e. e e

    ReplyDelete
  23. Msh blm ade ye lengkap sejarahe

    ReplyDelete
  24. Aku pacak gale ceritu nye,tapi cerite lucunye.idak lemak diceritekan,maluan tubuh.

    ReplyDelete
  25. Pacak gale ngkok cerite nye,tapi maluan kite ceritenye ngkok.ha.ha

    ReplyDelete
  26. Jelas dituliskan bahwa suku semende terbentuk oleh banyak ulama islam .secara logika islam mengajarkan rendah hati,sopan ,santun & seluruh ajaran kebaikannya...

    Karena inti dr suku semende adlah terbentuk dr ulama islam (orang yg paham agama & perilakunya kebaikan ),dan.seharusnya kehidupan yg terbentuk pun mencerminkan kehidupan islam , namun kenyataannya (fakta) "kebanyakan" sifat nya malah brkbalikan ( kecik ati,nak b'balak trs,mberingas,#bhasa_keseharian_sumbagsel) dr nlai islam,,,,menurut anda apa penyebabnya ?

    ReplyDelete
  27. Aq asli jeme perapau/peghapau semende , aq asli cucung puyang tuan dr peghapau , ame nak cerite ade peninggalan buku puyang tuan di ghuma nining qu di peghapau , yg penting pacak mbace nye kamu .

    ReplyDelete
  28. Terime kasih banyak admin. Sedikit banyak lah keruan makmane nian sejarah kaitan jeme Besemah ngah Semende.

    ReplyDelete
  29. Aku salah satu keturunan Puyang Remudi, neneng puyangku kance seperjuangan sandi Nineng kanda Bujang Karnawi. Menurut cerite Bapangku M. Zainal Abidin bin M. Soleh bin Kime bin Remudi. Salah satu Barang Pesake (Bujang Besalek) ye dulu ade di ghumah ninengku ds. Gunung Liwat Jarai adalah Pesake nineng puyang kanda Bujang Karnawi yang diserahkan kepada puyang kami Remudi, sebagai tande bahwa seluruh keturunan sandi 2 puyang ini jadi dek beradek

    ReplyDelete
  30. Assalamualaikum mamak-mamak,ibung-ibung,puk aku jeme semende lahir di lampung besak di lampung,aku nak betanye.?
    Ngape jme sebrang,palembang/semende..selalu di katekah gak jeme...jawe,sunda,pulau jawe lah maksudnya,bahwe wataknye KERAS KEPALE,tolong minta di jelaskah ame yang pacak ngape sangkah mbaitu ceritenye.trime kasih.

    ReplyDelete
  31. Assalamualaikum mamak-mamak,ibung-ibung,puk aku jeme semende lahir di lampung besak di lampung,aku nak betanye.?
    Ngape jme sebrang,palembang/semende..selalu di katekah gak jeme...jawe,sunda,pulau jawe lah maksudnya,bahwe wataknye KERAS KEPALE,tolong minta di jelaskah ame yang pacak ngape sangkah mbaitu ceritenye.trime kasih.

    ReplyDelete
  32. Assalamualaikum mamak-mamak,ibung-ibung,puk aku jeme semende lahir di lampung besak di lampung,aku nak betanye.?
    Ngape jme sebrang,palembang/semende..selalu di katekah gak jeme...jawe,sunda,pulau jawe lah maksudnya,bahwe wataknye KERAS KEPALE,tolong minta di jelaskah ame yang pacak ngape sangkah mbaitu ceritenye.trime kasih.

    ReplyDelete
  33. Assalamualaikum mamak-mamak,ibung-ibung,puk aku jeme semende lahir di lampung besak di lampung,aku nak betanye.?
    Ngape jme sebrang,palembang/semende..selalu di katekah gak jeme...jawe,sunda,pulau jawe lah maksudnya,bahwe wataknye KERAS KEPALE,tolong minta di jelaskah ame yang pacak ngape sangkah mbaitu ceritenye.trime kasih.

    ReplyDelete
  34. Alhamdulillah nenek kecik lah dmasukkah hehe

    ReplyDelete
  35. tolong bantu bapak atau ibu ,, sejarah semende bagaimana ya ? tolong ceritakan doong ibu atau bapak,, buat skripsi ?

    ReplyDelete
  36. Maap min bukannyo aku protes atau menyalahkan blog Mimin, tapi kalu menurut yang aku denger dari nenek aku bukan cak itu sejarahnyo min. Tapi kan Puyang di Semendo tu kan banyak mungkin persepsi masing2 dak tau Kito.
    Aku dari keturunan Masamak dari Puyang Rene

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentar atau Pertanyaan Anda : JANGAN komentar yang tidak berhubungan dengan materi dan JANGAN tinggalkan link web karena dianggap spam. Blog ini dofollow sehingga anda akan mendapatkan Backlink gratis.

 
Copyright © 2013. About - Sitemap - Contact - Privacy
Template Seo Elite oleh Bamz