Dialog Nabi Muhammad SAW vs Iblis

Advertisement
20 Pertanyaan Nabi Muhammad SAW kepada Iblis Laknatullah

Assalamualaikum wr wb

Sahabatku rahimakumullah
Terlampir di bawah ini adalah sebuat tulisan menarik tentang Dialog antara
Nabi Muhammad saw dengan Iblis Laknatullah, yang dikutip dari Kitab
“Sajaratul Kaun” oleh Muhyiddin Ibnu Arabi (Murcia July 28, 1165 –
Damascus November 10, 1240) / Darul ‘Ilmi al-Munawar asy-Syamsiyah,
Madinah. Dialog di bawah ini adalah berdasarkan Hadist yang diriwayatkan
oleh Muadz bin Jabal ra. dari Ibn Abbas ra.

Tentang kedudukan hadist2 ini Wallahualam bisshawab, karena saya belum
dapatkan pendapat para Ahli Hadist. Namun demikian lepas dari kedudukan
hadist2 di bawah ini, barangkali bisa kita ambil manfaatnya bagi kita.

Selamat membaca & Semoga bermanfaat

============
===================================
20 Pertanyaan Nabi Muhammad SAW kepada Iblis Laknatullah (Dialog Nabi

Muhammad vs Iblis)


Sahabatku rahimakumullah.


Al Quran telah berbicara menyampaikan kalam Illahi bahwa Rasulullah

Muhammad saw adalah suri tauladan yang baik. Rasulullah Muhammad saw
sebagai rahmatan lil ‘alamin, adalah utusan Allah swt yang bertugas untuk
memperbaiki akhlak manusia. Tidak sekalipun pikiran beliau bekerja,
melainkan untuk kebaikan umat. Tidak ada satupun perkataan yang keluar
dari lisannya, melainkan untuk kemaslahatan umat. Tidak ada satupun
perbuatan yang dilakukannya, melainkan untuk kemaslahatan umat. Segala
kerja otak, lisan, dan perbuatan anggota tubuhnya adalah berdasarkan
petunjuk Allah swt, sehingga bersih dari nafsu semata, dan kaya akan
rahmat Allah swt.

Allah swt berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu

suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat)
Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS.
Al-Ahzaab : 21)

Demikian Allah swt telah menegaskan bahwa Rasulullah saw adalah

satu-satunya figur yang patut menjadi panutan. Beliaulah yang senantiasa
memperjuangkan umat manusia dari cengkraman iblis laknatullah, yang
merupakan musuh terbesar umat manusia.

Selanjutnya Allah swt berfirman


“Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan

menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan
mendatangi mereka dari muka dan belakang mereka, dari kanan dan kiri
mereka dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur
(taat).” (QS. Al A�raf : 16-17)

Demikianlah pernyataan langsung iblis terlaknat kepada Allah swt setelah

mereka menolak perintah Allah swt untuk bersujud kepada Adam dan akhirnya
diusir oleh Allah swt dari surga. Mulai saat itulah, iblis telah menjadi
musuh terbesar, musuh bebuyutan bagi seluruh keturunan Adam.

Satu ketika, Allah SWT telah memerintahkan seorang Malaikat menemui Iblis

supaya dia menghadap Rasulullah saw untuk memberitahu segala rahasianya,
baik yang disukai maupun yang dibencinya. Hikmatnya ialah untuk
meninggikan derajat Nabi Muhammad SAW dan juga sebagai peringatan dan
perisai kepada umat manusia.

Maka Malaikat itu pun berjumpa Iblis dan berkata, “Hai Iblis! Bahwa Allah

Yang Maha Mulia dan Maha Besar memberi perintah untuk menghadap
Rasullullah saw. Hendaklah engkau buka segala rahasiamu dan apapun yang
ditanya Rasulullah hendaklah engkau jawab dengan sebenar-benarnya. Jikalau
engkau berdusta walau satu perkataan pun, niscaya akan terputus semua
anggota badanmu, uratmu, serta disiksa dengan azab yang amat keras.”

Mendengar ucapan Malaikat yang dahsyat itu, Iblis sangat ketakutan. Maka

segeralah dia menghadap Rasulullah SAW dengan menyamar sebagai seorang tua
yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih 10 helai, panjangnya
seperti ekor lembu.

Iblis pun memberi salam, sehingga 3 kali tidak juga dijawab oleh

Rasulullah saw. Maka sambut Iblis (laknatullah)
, “Ya Rasulullah! Mengapa
engkau tidak mejawab salamku? Bukankah salam itu sangat mulia di sisi
Allah?”

Maka jawab Nabi dengan marah, “Hai Aduwullah seteru Allah! Kepadaku engkau

menunjukkan kebaikanmu? Janganlah mencoba menipuku sebagaimana kau tipu
Nabi Adam a.s sehingga keluar dari syurga, Habil mati teraniaya dibunuh
Qabil dengan sebab hasutanmu, Nabi Ayub engkau tiup dengan asap beracun
ketika dia sedang sujud sembahyang hingga dia sengsara beberapa lama,
kisah Nabi Daud dengan perempuan Urya, Nabi Sulaiman meninggalkan
kerajaannya karena engkau menyamar sebagai isterinya dan begitu juga
beberapa Anbiya dan pendeta yang telah menanggung sengsara akibat
hasutanmu.

Hai Iblis! Sebenarnya salam itu sangat mulia di sisi Allah azza wajalla,

cuma salammu saja aku tidak hendak menjawabnya karena diharamkan Allah.
Maka aku kenal baik-baik engkaulah Iblis, raja segala iblis, syaitan dan
jin yang menyamar diri. Apa kehendakmu datang menemuiku?”


Taklimat Iblis, “Ya Nabi Allah! Janganlah engkau marah. Karena engkau

adalah Khatamul Anbiya maka dapat mengenaliku. Kedatanganku adalah
diperintah Allah untuk memberitahu segala tipu dayaku terhadap umatmu dari
zaman Nabi Adam hingga akhir zaman. Ya Nabi Allah! Setiap apa yang engkau
tanya, aku bersedia menerangkan satu persatu dengan sebenarnya, tiadalah
aku berani menyembunyikannya.”

Maka Iblis pun bersumpah menyebut nama Allah dan berkata, “Ya Rasulullah!

Sekiranya aku berdusta barang sepatah pun niscaya hancur leburlah badanku
menjadi abu.” Apabila mendengar sumpah Iblis itu, Nabi pun tersenyum dan
berkata dalam hatinya, inilah satu peluangku untuk menyiasati segala
perbuatannya agar didengar oleh sekalian sahabat yang ada di majlis ini
dan menjadi perisai kepada seluruh umatku.

“Hai Iblis! Siapakah sebesar-besar musuhmu dan bagaimana aku terhadapmu?”


Jawab Iblis: “Ya Nabi Allah! Engkaulah musuhku yang paling besar di antara

segala musuhku di muka bumi ini.”

Maka Nabi pun memandang muka Iblis, dan Iblis pun menggeletar karena

ketakutan. Sambung Iblis, “Ya Khatamul Anbiya! Ada pun aku dapat merubah
diriku seperti sekalian manusia, binatang dan lain-lain hingga rupa dan
suara pun tidak berbeda, kecuali dirimu saja yang tidak dapat aku tiru
karena dicegah oleh Allah.

Kiranya aku menyerupai dirimu, maka terbakarlah diriku menjadi abu. Aku

cabut iktikad / niat anak Adam supaya menjadi kafir karena engkau berusaha
memberi nasihat dan pengajaran supaya mereka kuat untuk memeluk agama
Islam, begitu jugalah aku berusaha menarik mereka kepada kafir, murtad
atau munafik. Aku akan menarik seluruh umat Islam dari jalan benar menuju
jalan yang sesat supaya masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya
bersamaku.”

“Hai Iblis! Bagaimana perbuatanmu kepada makhluk Allah?”


Jawab Iblis: “Adalah satu kemajuan bagi perempuan yang merenggangkan kedua

pahanya kepada lelaki yang bukan suaminya, setengahnya hingga mengeluarkan
benih yang salah sifatnya. Aku goda semua manusia supaya meninggalkan
sholat, terbuai dengan makan minum, berbuat durhaka, aku lalaikan dengan
harta benda daripada emas, perak dan permata, rumahnya, tanahnya,
ladangnya supaya hasilnya dibelanjakan ke jalan haram.

Demikian juga ketika pesta yang bercampur antara lelaki dan perempuan.

Disana aku lepaskan sebesar-besar godaan supaya hilang peraturan dan minum
arak. Apabila terminum arak itu maka hilanglah akal, fikiran dan malunya.
Lalu aku ulurkan tali cinta dan terbukalah beberapa pintu maksiat yang
besar, datang perasaan hasad dengki hingga kepada pekerjaan zina. Apabila
terjadi kasih antara mereka, terpaksalah mereka mencari uang hingga
menjadi penipu, peminjam dan pencuri.

Apabila mereka teringat akan salah mereka lalu hendak bertaubat atau

berbuat amal ibadat, aku akan rayu mereka supaya mereka menangguhkannya.
Bertambah keras aku goda supaya menambahkan maksiat dan mengambil isteri
orang. Bila kena goda hatinya, datanglah rasa ria, takabur, megah, sombong
dan melengahkan amalnya. Bila pada lidahnya, mereka akan gemar berdusta,
mencela dan mengumpat. Demikianlah aku goda mereka setiap saat.”

Pertanyaan Nabi (3):


“Hai Iblis! Mengapa engkau bersusah payah melakukan pekerjaan yang tidak

mendatangkan faedah bahkan menambahkan laknat yang besar serta siksa yang
besar di neraka yang paling bawah? Hai yang dikutuk Allah! Siapa yang
menjadikanmu? Siapa yang melanjutkan usiamu? Siapa yang menerangkan
matamu? Siapa yang memberi pendengaranmu? Siapa yang memberi kekuatan
anggota badanmu?”


Jawab Iblis: “Semuanya itu adalah anugerah daripada Allah Yang Maha Besar

juga. Tetapi hawa nafsu dan takabur membuatku menjadi jahat
sebesar-besarnya. Engkau lebih tahu bahwa Diriku telah beribu-ribu tahun
menjadi ketua seluruh Malaikat dan pangkatku telah dinaikkan dari satu
langit ke satu langit yang tinggi. Kemudian Aku tinggal di dunia ini
beribadat bersama sekalian Malaikat beberapa waktu lamanya.

Tiba-tiba datang firman Allah SWT hendak menjadikan seorang Khalifah di

dunia ini, maka akupun membantah. Lalu Allah menciptakan lelaki (Nabi
Adam) lalu dititahkan seluruh Malaikat memberi hormat kepada lelaki itu,
kecuali aku yang ingkar. Oleh karena itu Allah murka kepadaku dan wajahku
yang tampan rupawan dan bercahaya itu bertukar menjadi keji dan kelam. Aku
merasa sakit hati. Kemudian Allah menjadikan Adam raja di syurga dan
dikurniakan seorang permaisuri (Siti Hawa) yang memerintah seluruh
bidadari. Aku bertambah dengki dan dendam kepada mereka.

Akhirnya aku berhasil menipu mereka melalui Siti Hawa yang menyuruh Adam

memakan buah Khuldi, lalu keduanya diusir dari syurga ke dunia. Keduanya
berpisah beberapa tahun dan kemudian dipertemukan Allah (di Padang
Arafah), hingga mereka mendapat beberapa orang anak. Kemudian kami hasut
anak lelakinya Qabil supaya membunuh saudaranya Habil. Itu pun aku masih
tidak puas hati dan berbagai tipu daya aku lakukan hingga Hari Kiamat.

Sebelum Engkau lahir ke dunia, aku beserta bala tentaraku dengan mudah

dapat naik ke langit untuk mencuri segala rahasia serta tulisan yang
menyuruh manusia berbuat ibadat serta balasan pahala dan syurga mereka.
Kemudian aku turun ke dunia, dan memberitahu manusia yang lain aripada apa
yang sebenarnya aku dapatkan, dengan berbagai tipu daya hingga tersesat
dengan berbagai kitab bid’ah dan carut-marut.

Tetapi ketika engkau lahir ke dunia ini, maka aku tidak dibenarkan oleh

Allah untuk naik ke langit serta mencuri rahasia, kerana banyak Malaikat
yang menjaga di setiap lapisan pintu langit. Jika aku berkeras juga hendak
naik, maka Malaikat akan melontarkan anak panah dari api yang menyala.
Sudah banyak bala tenteraku yang terkena lontaran Malaikat itu dan
semuanya terbakar menjadi abu. Maka besarlah kesusahanku dan bala
tentaraku untuk menjalankan tugas menghasut.”
 
Pertanyaan Nabi (4):

“Hai Iblis! Apakah yang pertama engkau tipu dari manusia?”


Jawab Iblis: “Pertama sekali aku palingkan iktikad / niatnya, imannya

kepada kafir juga ada dari segi perbuatan, perkataan, kelakuan atau
hatinya. Jika tidak berhasil juga, aku akan tarik dengan cara mengurangi
pahala. Lama-kelamaan mereka akan terjerumus mengikut kemauan jalanku”

“Hai Iblis! Jika umatku sholat karena Allah, bagaimana keadaanmu?”

 
Jawab Iblis: “Sebesar-besarnya kesusahanku. Gementarlah badanku dan lemah
tulang sendiku. Maka aku kerahkan berpuluh-puluh iblis datang menggoda
seorang manusia, pada setiap anggota badannya.

Setengah-setengahny
a datang pada setiap anggota badannya supaya malas
sholat, was-was, terlupa bilangan rakaatnya, bimbang pada pekerjaan dunia
yang ditinggalkannya, sentiasa hendak cepat habis sholatnya, hilang
khusyuknya – matanya sentiasa menjeling ke kiri kanan, telinganya
senantiasa mendengar orang bercakap serta bunyi-bunyi yang lain. Setengah
Iblis duduk di belakang badan orang yang sembahyang itu supaya dia tidak
kuasa sujud berlama-lama, penat atau duduk tahiyat dan dalam hatinya
senantiasa hendak cepat habis sholatnya, itu semua membawa kepada
kurangnya pahala. Jika para Iblis itu tidak dapat menggoda manusia itu,
maka aku sendiri akan menghukum mereka dengan seberat-berat hukuman.”

“Jika umatku membaca Al-Quran karena Allah, bagaimana perasaanmu?”


Jawab Iblis: “Jika mereka membaca Al-Quran karena Allah, maka rasa

terbakarlah tubuhku, putus-putus segala uratku lalu aku lari daripadanya.”

“Jika umatku mengerjakan haji karena Allah, bagaimana perasaanmu?”


Jawab Iblis: “Binasalah diriku, gugurlah daging dan tulangku karena mereka

telah mencukupkan rukun Islamnya.”

Pertanyaan Nabi (8):


“Jika umatku berpuasa karena Allah, bagaimana keadaanmu?”


Jawab Iblis: “Ya Rasulullah! Inilah bencana yang paling besar bahayanya

kepadaku. Apabila masuk awal bulan Ramadhan, maka memancarlah cahaya Arasy
dan Kursi, bahkan seluruh Malaikat menyambut dengan suka cita. Bagi orang
yang berpuasa, Allah akan mengampunkan segala dosa yang lalu dan
digantikan dengan pahala yang amat besar serta tidak dicatatkan dosanya
selama dia berpuasa. Yang menghancurkan hatiku ialah segala isi langit dan
bumi, yakni Malaikat, bulan, bintang, burung dan ikan-ikan semuanya siang
malam mendoakan ampunan bagi orang yang berpuasa. Satu lagi kemuliaan
orang berpuasa ialah dimerdekakan pada setiap masa dari azab neraka.
Bahkan semua pintu neraka ditutup manakala semua pintu syurga dibuka
seluas-luasnya, serta dihembuskan angin dari bawah Arasy yang bernama
Angin Syirah yang amat lembut ke dalam syurga. Pada hari umatmu mulai
berpuasa, dengan perintah Allah datanglah sekalian Malaikat dengan
garangnya menangkapku dan tentaraku, jin, syaitan dan ifrit lalu dipasung
kaki dan tangan dengan besi panas dan dirantai serta dimasukkan ke bawah
bumi yang amat dalam. Di sana pula beberapa azab yang lain telah menunggu
kami. Setelah habis umatmu berpuasa barulah aku dilepaskan dengan perintah
agar tidak mengganggu umatmu. Umatmu sendiri telah merasa ketenangan
berpuasa sebagaimana mereka bekerja dan bersahur seorang diri di tengah
malam tanpa rasa takut dibandingkan bulan biasa.”

“Hai Iblis! Bagaimana seluruh sahabatku menurutmu?”


Jawab Iblis: “Seluruh sahabatmu juga adalah sebesar – besar seteruku.

Tiada upayaku melawannya dan tiada satu tipu daya yang dapat masuk kepada
mereka. Karena engkau sendiri telah berkata: “Seluruh sahabatku adalah
seperti bintang di langit, jika kamu mengikuti mereka, maka kamu akan
mendapat petunjuk.”

Abu Bakar al-Siddiq sebelum bersamamu, aku tidak dapat mendekatinya,

apalagi setelah berdampingan denganmu. Dia begitu percaya atas kebenaranmu
hingga dia menjadi wazirul a’zam. Bahkan engkau sendiri telah mengatakan
jika ditimbang seluruh isi dunia ini dengan amal kebajikan Abu Bakar, maka
akan lebih berat amal kebajikan Abu Bakar. Tambahan pula dia telah menjadi
mertuamu karena engkau menikah dengan anaknya, Saiyidatina Aisyah yang
juga banyak menghafadz Hadits-haditsmu.

Umar Al-Khattab pula tidaklah berani aku pandang wajahnya karena dia

sangat keras menjalankan hukum syariat Islam dengan seksama. Jika aku
pandang wajahnya, maka gemetarlah segala tulang sendiku karena sangat
takut. Hal ini karena imannya sangat kuat apalagi engkau telah mengatakan,
“Jikalau adanya Nabi sesudah aku maka Umar boleh menggantikan aku”, karena
dia adalah orang harapanmu serta pandai membedakan antara kafir dan Islam
hingga digelar ‘Al-Faruq’.

Usman Al-Affan lagi, aku tidak bisa bertemu, karena lidahnya senantiasa

bergerak membaca Al-Quran. Dia penghulu orang sabar, penghulu orang mati
syahid dan menjadi menantumu sebanyak dua kali. Karena taatnya, banyak
Malaikat datang melawat dan memberi hormat kepadanya karena Malaikat itu
sangat malu kepadanya hingga engkau mengatakan, “Barang siapa menulis
Bismillahir rahmanir rahim pada kitab atau kertas-kertas dengan dakwat
merah, nescaya mendapat pahala seperti pahala Usman mati syahid.”

Sayiidina Ali bib Abi Talib kw pun itu aku sangat takut karena hebatnya

dan gagahnya dia di medan perang, tetapi sangat sopan santun, alim
orangnya. Jika iblis, syaitan dan jin memandang beliau, maka terbakarlah
kedua mata mereka karena dia sangat kuat beribadat serta beliau adalah
golongan orang pertama memeluk agama Islam dan tidak pernah menundukkan
kepalanya kepada sebarang berhala. Bergelar ‘Ali Karamullahu Wajhahu’ –
dimuliakan Allah akan wajahnya dan juga ‘Harimau Allah’ dan engkau sendiri
berkata, “Akulah negeri segala ilmu dan Ali itu pintunya.” Tambahan pula
dia menjadi menantumu, semakin aku ngeri kepadanya.”

“Bagaimana tipu daya engkau kepada umatku?


Jawab Iblis:
“Umatmu itu ada tiga macam. Yang pertama seperti hujan dari langit yang
menghidupkan segala tumbuhan yaitu ulama yang memberi nasihat kepada
manusia supaya mengerjakan perintah Allah serta meninggalkan laranganNya
seperti kata Jibril a.s, “Ulama itu adalah pelita dunia dan pelita
akhirat.” Yang kedua umat tuan seperti tanah yaitu orang yang sabar,
syukur dan ridha dengan karunia Allah. Berbuat amal soleh, tawakal dan
kebajikan. Yang ketiga umatmu seperti Firaun; terlampau tamak dengan harta
dunia serta dihilangkan amal akhirat. Maka akupun bersukacita lalu masuk
ke dalam badannya, aku putarkan hatinya ke lautan durhaka dan aku hela ke
mana saja mengikuti kehendakku. Jadi dia senantiasa bimbang kepada dunia
dan tidak hendak menuntut ilmu, tiada masa beramal ibadat, tidak hendak
mengeluarkan zakat, miskin hendak beribadat.

Lalu aku goda agar minta kaya dulu, dan apabila diizinkan Allah dia

menjadi kaya, maka dilupakan beramal, tidak berzakat seperti Qarun yang
tenggelam dengan istana mahligainya. Bila umatmu terkena penyakit tidak
sabar dan tamak, dia senantiasa bimbang akan hartanya dan setengahnya
asyik hendak merebut dunia harta, bercakap besar sesama Islam, benci dan
menghina kepada yang miskin, membelanjakan hartanya untuk jalan maksiat,
tempat judi dan perempuan lacur.”

“Siapa yang serupa dengan engkau?”


Jawab Iblis: “Orang yang meringankan syariatmu dan membenci orang belajar

agama Islam.”

“Siapa yang mencahayakan muka kamu?”


Jawab Iblis: “Orang yang berdosa, bersumpah bohong, saksi palsu, pemungkir

janji.”

“Apakah rahasia engkau kepada umatku?”


Jawab Iblis: “Jika seorang Islam pergi buang air besar serta tidak membaca

doa pelindung syaitan, maka aku gosok-gosokkan najisnya sendiri ke
badannya tanpa dia sadari.”

“Jika umatku bersatu dengan isterinya, bagaimana hal engkau?”


Jawab Iblis: “Jika umatmu hendak bersetubuh dengan isterinya serta membaca

doa pelindung syaitan, maka larilah aku dari mereka. Jika tidak, aku akan
bersetubuh dahulu dengan isterinya, dan bercampurlah benihku dengan benih
isterinya. Jika menjadi anak maka anak itu akan gemar kepada pekerjaan
maksiat, malas pada kebaikan, durhaka. Ini semua karena kealpaan ibu
bapaknya sendiri. Begitu juga jika mereka makan tanpa membaca Bismillah,
aku yang dahulu makan daripadanya. Walaupun mereka makan, tiadalah merasa
kenyang.”

“Dengan jalan apa dapat menolak tipu daya engkau?”


Jawab Iblis: “Jika dia berbuat dosa, maka dia kembali bertaubat kepada

Allah, menangis menyesal akan perbuatannya. Apabila marah segeralah
mengambil air wudhu’, maka padamlah marahnya.”

“Siapakah orang yang paling engkau lebih sukai?”


Jawab Iblis: Lelaki dan perempuan yang tidak mencukur atau mencabut bulu

ketiak atau bulu ari-ari (bulu kemaluan) selama 40 hari. Di situlah aku
mengecilkan diri, bersarang, bergantung, berbuai seperti pijat pada bulu
itu.”

Pertanyaan Nabi (17):


“Hai Iblis! Siapakah saudara engkau?”


Jawab Iblis: “Orang yang tidur meniarap / telungkup, orang yang matanya

terbuka (mendusin) di waktu subuh tetapi menyambung tidur lagi. Lalu aku
lenakan dia hingga terbit fajar. Demikian jua pada waktu zuhur, asar,
maghrib dan isya’, aku beratkan hatinya untuk sholat.”

“Apakah jalan yang membinasakan diri engkau?”


Jawab Iblis: “Orang yang banyak menyebut nama Allah, bersedekah dengan

tidak diketahui orang, banyak bertaubat, banyak tadarus Al-Quran dan
sholat tengah malam.”

Hai Iblis! Apakah yang memecahkan mata engkau?”


Jawab Iblis: “Orang yang duduk di dalam masjid serta beriktikaf di

dalamnya”

“Apa lagi yang memecahkan mata engkau?”


Jawab Iblis: “Orang yang taat kepada kedua ibu bapanya, mendengar kata

mereka, membantu makan pakaian mereka selama mereka hidup, karena engkau
telah bersabda, ‘Syurga itu di bawah tapak kaki ibu’” 


Demikianlah Rasulullah saw telah mengorek keterangan dalam-dalam kepada

iblis laknatullah. Semoga, dialog antara Rasulullah Muhammad saw dengan
iblis yang banyak membongkar rahasia-rahasia iblis tersebut dapat menjadi
ladang hikmah bagi kita semua. Semoga kita dapat mengambil pelajaran
dengan terus membentengi diri dari pengaruh-pengaruh iblis laknatullah,
yaitu dengan terus ber-taqarrub kepada Allah swt. Amin.

Sumber : Kitab Sajaratul Kaun oleh Muhyiddin Ibnu Arabi / Darul ‘Ilmi

al-Munawar asy-Syamsiyah, Madinah. 
Blog suber kutipan  : http://hujeni.blogspot.com/

ARTIKEL YANG BERKAITAN