Sejarah, Morfologi dan Bionomik Nyamuk Aedes Aegypti Penyebab Demam Berdarah Dengue

Advertisement
Kejadian demam berdarah di indonesia sudah tidak asing lagi, apalagi jika saat-saat pergantian musim, dari musim hujan ke kemarau ataupun sebaliknya. kasus demam berdarah bukan hal yang sepeleh karena banyak sekali korban yang berjatuhan. sehingga berikut ini saya coba berbagi singkat kepada pembaca tentang nyamuk sebagai vektor/pembawa virus yang menyebabkan demam berdarah dengue. diharapkan masyarakat dapat mencegah dan mengantisipasi supaya tidak terkena penyakit demam berdarah

sejarah nyamuk Aedes Aegypti
Nyamuk Aedes aegypti berasal dari Afrika Timur, kemudian menyebar kearah timur dan barat, di daerah tropis dan subtropis pada batas lintang 40¬o lintang utara dan 40¬o lintang selatan.
Nyamuk ini tersebar luas di daerah tropis dan subtropis di asia tenggara, terutama di daerah perkotaan. Penyebaran nyamuk kelingkungan pedesaan disebabkan adanya perbaikan sarana transportasi dan pengembangan sarana suplai air sampai kepedesaan. Ketinggian dari pemukaan laut merupakan faktor yang paling penting bagi penyebaran nyamuk Aedes aegypti. Di India, nyamuk Aedes aegypti berada pada ketinggian 0 – 100 meter dari permukaan laut. Di negara negara asia tenggara penyebarannya hanya sampai ketinggian 1500 meter.

Daur hidup meliputi dari telur sampai dewasa :
Nyamuk mengalami metamorfosis sempurna meliputi stadium telur-larva-pupa-dewasa selama pertumbuhan. Nyamuk mempunyai perbedaan morfologi yang jelas disertai perbedaan biologi (temapt hidup dan makanan) antara tingkat muda dan dewasa. Telur sebanyak 30-300 butir diletakan satu persatu pada dinding pada tempat perkembangbiakannya dan akan menetas dalam 2-3 hari. Telur dapat bethan hidup dalam keadaan kering selama berbulan-bulan dan akan menetas jika terkontak air.
Telur menetas akan menjadi larva instar-1, selanjutnya akan mengalami 3 kali moulting yang akan tumbuh dan berkembang sampai dengan instar-4. Larva instar-4 akan mengalami ekdisis atau pupotion selanjutnya kan berkembang menjadi pupa.

Pupa merupakan stadium tidak makan dan sebagian besar waktunya dihabiskan dipeermukaan air untuk mengambil udara melalui terompet respirasinya. Periode pupa di daerah tropik selama 2-3 hari, sedangkan di daerah subtropik dapat mencapai 9-12 hari. Nyamuk dewasa setlah muncul dari pupa, beberapa hari kemudian akan mencari pasangan untuk melalukan perkawinan. Umur nyamuk betina 8-15 hari, nyamuk jantan 3-6 hari. Nyamuk betina menghisap darah manusia dan karbohidrat tumbuh-tumbuhan, sedangkan nyamuk jantan hanya menghisap sari tumbuh-tumbuhan saja. Diduga karbohidrat dari tumbuh-tumbuhan untuk sintesis energi untuk kehidupan sehari-hari, sedang darah manusia untuk reproduksi.

Morfologi :
Telur berwarna putih saat pertama kali di keluarkan, lalu menjadi coklat kehitaman. Telur berbenuk oval, panjang kurang lebih 0,5 mm, dan di letakan di dinding wadah. Telur menetas menjadi larva. Toraks larva nyamuk lebih lebar dari kepalanya. Kepalanya berkembang baik dengan antena dan mata majemuk, serta sikat mulut yang menonjol. Abdomen terbagi dalam 10 ruas dan hanya 9 ruas yang jelas, dan ruas terakhir dilengkapi dengan tabung udara (sifon) yang bentunnya silinder. Pada sifon terdapat satu pasang Subventratuft, dan pada perut ruas terakhir mempunyai sederet comb (gigi sisir).
Larva berubah menjadi pupa. Pupa nyamuk berbentuk koma, kepala dan torak menjadi satu membentuk sefalotoraks dengan sepasang trompet respirasi pada bagian dorsa. Jika ada gangguan pupa akan bergerak ke atas dan kebawah dengan gerakan yang menyentak-nyentak.

Pupa berubah menjadi nyamuk dewasa. Aedes aegypti dapat di bedakan dengan nyamuk lain dengan melihat ujung abdomen meruncing dan emmpunyai sersi yang menonjol. Bagian mesonotum terdapat rambut post spirakel. Corak putih pada dorsal dada Aedes aegypti berbentuk seperti alat musik harpa putih (WHO, 1999) sedangkan Aedes albopictus berbentuk lurus. Nyamuk mempunyai probosis berwarna gelap pada bagian kepala yang panjangnya melibih panjang kepala. Probosis nyamuk betina digunakan untuk menghisap darah, sedangkan pada nyamuk jantan hanya untuk bahan-bahan cair seperti cairan tumbuhan dan buah-buahan. Palpus terdapat dikiri ndan kanan probosis yang terdiri atas 5 ruas dan sepasang antena yang terdiri dari 15 ruas. Antena pada nyamuk jantan berambut lebat (plumose) dan pada nyamuk betina jarang (pilose). Sayap nyamuk panjang dan langsing mempunyai vena yang permukaannya ditumbuhi sisik-sisik sayap yang letaknya mengikuti vena. Nyamuk mempunyai 3 pasang kaki (heksapoda) yang melekat pada toraks dan tiap kaki terdiri atas 1 ruas femur, 1 ruas tibia, dan 5 ruas tarsus.

Bionomik :
Aedes aegypti berkembangbiak di dalam tempat penampungan air seperti bak mandi, tempayan, drum, vas bunga, dan barang bekas yang dapat menampung air hujan di daerah urban dan suburban. Aedes albopictus juga demikian tetapi biasanya lebih banyak terdapat di luar rumah. Nyamuk Aedes aegypti lebih suka mengigit pada dearah terlindung seperti di sekitar rumah. Aktivitas mengigit mencapai puncak pada saat perubahan intensitas cahaya tetapi bisa mengigit sepanjang hari dan tertinggi sebelum matahari terbenam. Jarak terbang pendek yaitu 50-100 meter kecuali terbawa angin. Nyamuk akan istirahat pada tempat-tempat yang gelap dan sejuk apabila sudah menghisap darah, sampai proses penyerapan darah untuk perkembangan telur selesai. Nyamuk akan mencari tempat berair untuk meletakan telurnya, kemudian bertelur dan kemudian nyamuk akan mulai mencari darah lagi untuk siklus bertelur berikutnya.

Fektor dan Virus DBD dan Penularannya
Penularan penyakit DBD tergantung tiga faktor yaitu manusia, virus dan nyamuk. Tubuh manusia yang sakit DBD mengandung virus dengue. Virus ditularkan dari penderita kepada manusia yang sehat melalui Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Virus dengue menyebabkan DBD termasuk famili flaviviridae. Di kenal ada 4 serotif virus dengue yaitu den-1, den-2, den-3, dan den-4. Virus beredar sepanjang tahun pada tubuh nyamuk di daerah endemis.

Vektor penyakit DBD adalah Aedes aegypti sebagai vektor utama dan Aedes albopictus sebagai vektor sekunder. Nyamuk betina infeksi dengue menularkan penyakit pada saat menghisap darah manusia. Sifat antropofilik dan menggigit berulang saat penting artinya dalam kedudukanya sebagai vektor DBD. Nyamuk betina menghisap darah pada umumnya 3 hari setelah kawin dan mulai bertelur pada hari keenam. Dengan bertambahnya darah yang dihisap, bertambah pula telur yang di produksi (WHO, 1975). 

Wilayah Indonesia mempunyai dua iklim yaitu kemarau dan penghujan. Hasil pengamatan kasus DBD selama 5 tahun terakhir di Indonesia menunjukan peningkatan kasus biasanya pada musim hujan, yakni bulan november sampai dengan maret. Di beberapa kota, puncak penularan pertama penularan penyakit DBD terjadi bulan januari hingga februari, puncak kedua muncul pada bulan april sampai juni (WHO, 2001).

ARTIKEL YANG BERKAITAN